#3: Salam dan Kesucian Islam Membukakan Hati Saya

29 November 2012

Saya dilahirkan dari keluarga Kristen Protestan yang taat. Kedua orang tua saya adalah orang yang sangat tekun menjalankan ibadah, baik ke gereja maupun ibadah yang diadakan di lingkungan masyarakat. Berkat ketelatenannya itu, ayah saya dipercaya sebagai penatua. la memimpin gereja di suatu distrik atau wilayah di tempat tinggal kami. Tak heran, jika kami -anak-anaknya- mengikuti jejak beliau, aktif di lingkungan yang sarat dengan aktivitas kerohanian itu.


Sebagai anak tertua, saya lebih menonjol dalam bidang kerohanian. Sejak kecil, saya biasa mengikuti Sekolah Mingguan. Saya selalu menjadi panutan bagi yang lain. Saya selalu terpilih sebagai duta atau wakil teman-teman dari gereja untuk mengikuti pertandingan atau perlombaan-perlombaan yang diadakan gereja secara rutin setiap tahun.

Hingga dewasa dan sampai saya pindah ke kota Jakarta, kemampuan saya dalam berorganisasi di bidang kerohanian di lingkungan gereja maupun kantor sangat diperhitungkan. Di sini, saya pun selalu dipercaya memegang kepengurusan.

Walaupun banyak kegiatan yang saya ikuti di gereja, bahkan sampai menyita waktu, baik malam maupun siang hari, sejauh itu saya hanya senang dan gembira pada saat kegiatan itu berlangsung. Tetapi jika kegiatan itu berakhir, maka yang tinggal hanyalah penat, bosan, dan capek. Demikianlah kehidupan rutinitas saya yang selalu monoton tanpa ada perasaan lega atau bahagia, sehingga ada rasa rindu menanti kegiatan-kegiatan gereja lainnya.

#2: Pemuda yang Ditolong oleh Allah

Ada seorang pemuda yang mengingkari agamanya dan melupakan Tuhannya serta melalaikan dirinya sendiri. Ia sering dijadikan contoh untuk sebuah kedurhakaan dan pembangkangan. Karena seringnya ia menyakiti orang lain, sudah banyak orang yang mendoakan kebinasaannya agar semua orang bisa hidup tenang tanpa gangguannya.


Beberapa da'i sudah menasihatinya namun ia tidak menerimannya. Mereka mengingatkannya, namun ia tidak mau mendengar. Ia sudah diperingatkan, namun ia tidak kunjung sadar. Ia hanya mau hidup dalam kegelapan syahwatnya.

Suatu ketika, seorang da'i datang menemuinya. Ia menasihati si pembangkang ini hingga membuatnya menangis. Sang da'i ini mengira bahwa ia telah bertaubat kepada Allah dan mau kembali kepada-Nya. Namun sia-sia saja. Ia kembali seperti semula seakan-akan tidak pernah mendengarkan sama sekali. Ia tidak mengenal masjid, bahkan hingga di hari Jumat sekali pun. Ia keluar dari rumahnya sejak ba'da Isya bersama dengan sekelompok anak nakal, dan tidak pulang kecuali menjelang waktu Shubuh. Sepanjang siang ia hanya tidur. Ia meniggalkan pekerjaan, hingga ia mengalami kebangkrutan dunia dan akhirat. Ibunya selalu menangis melihat kondisinya. Bahkan betapa seringnya ia berangan-angan agar si anak mati saja.

Ia tidur sambil mendengarkan nyanyian dan begitu pula kondisinya jika bangun. Ia mempunyai koleksi gambar-gambar tidak senonoh yang dapat menghancurkan iman semua penduduk kotanya. Bahkan ia juga sudah terbukti mengonsumsi narkoba, hingga ia mengalami ketidaksadaran di otak dan jiwanya.

Sudah begitu lama ia jauh dari Allah. Namun kasih sayang-Nya selalu meliputinya. Sudah begitu lama ia durhaka pada-Nya, namun Allah masih saja memberinya tenggat waktu. Maksiatnya sudah demikian banyak, namun nikmat-nikmat Allah masih meliputinya.

#1: Kisah Tiga Karung Beras

Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggallah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang.

Ibunya bersusah payah seorang diri membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas. Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit reumatik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja di sawah.

Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa 30 kg beras untuk dibawa ke kantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan 30 kg beras tersebut. Dan kemudian ia berkata kepada ibunya: "Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja di sawah." Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata: "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftar ke sekolah, nanti berasnya mama yang akan bawa ke sana."

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan diri ke sekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya.

Jihad Nabi di Bumi Palestina

18 November 2012

Oleh asy-Syaikh Dr. Abu Anas Muhammad Bin Musa Alu Nashr -hafizhahullah-

Palestina adalah bumi penuh berkah yang Allah jadikan sebagai tempat turunnya risalah, tempat berhimpunnya kebudayaan dan sebagai tempat hijrah para nabi-Nya. Di dalamnya terdapat kiblat pertama dan tempat di-isra’-kannya Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, di dalamnya pula Dajjal akan binasa melalui tangan al-Masih ‘alayhis salam dan dibinasakannya Ya’juj dan Ma’juj. Serta di dalamnya pula, bebatuan dan pepohonan akan berkata, “Wahai muslim! Wahai hamba Allah! Ini ada Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia!”, maka Yahudi pun akan binasa melalui tangan hamba-hamba Allah yang shalih di bumi Palestina.

Rasulullah pernah mengimami seluruh Nabi di Masjid al-Aqsha, agar imamah (kepemimpinan) dan siyadah (kekuasaan) di atas Masjidil Aqsha tetap langgeng, agar seluruh makhluk tunduk terhadap Islam. Selama perputaran sejarah, kerajaan-kerajaan dan negeri-negeri saling bermusuhan untuk memperebutkannya, mereka saling membinasakan dan mengalahkan dalam rangka menguasainya dan mendudukinya. Dikarenakan Palestina adalah bumi Allah terpilih (the choosen land) yang Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi khalil (kesayangan)-Nya Ibrahim dan kalim-Nya (kalim: orang yang diajak bercakap) Musa, sebagai tempat kelahiran Isa dan tempat isra’-nya Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Di saat kemunculan Islam, Palestina saat itu di bawah kekuasaan imperium Romawi yang salibis paganis. Maka merupakan keharusan mensucikan Palestina dari najis-najis mereka. Nabi telah menulis surat kepada Raja Romawi dan mengutus kepadanya beberapa utusan. Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah mengerahkan pasukan dalam jumlah besar, dan Palestina ketika itu termasuk salah satu begian negeri Syam. Belum pernah terjadi saat itu adanya pembatasan-pembatasan wilayah/area yang dipisahkan oleh perjanjian ‘Saikus baiku’ yang memilukan (seperti saat ini).

Hati yang Diam Kala Terluka

13 November 2012

Oleh Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi

Seorang dokter ahli bedah bergegas menuju rumah sakit begitu dihubungi pihak rumah sakit karena seorang pasien dalam kondisi kritis harus segera dioperasi. Begitu sampai dia mempersiapkan diri, mandi dan bersalin pakaian.


Sejenak sebelum masuk ke ruangan operasi ia bertemu dengan ayah pasien yang raut wajahnya memendam cemas bercampur marah. Dengan ketus laki-laki itu mencecar sang dokter, "Kenapa lama sekali, Dokter! Tidak taukah Anda anak saya sedang kritis! Mana tanggung jawab Anda sebagai dokter!"

Dokter bedah itu menjawab dalam senyum, "Saudaraku, saya sangat menyesal atas keterlambatan ini. Tadi saya sedang berada di luar, tetapi begitu dihubungi saya langsung menuju ke sini. Semoga Anda maklum dan dapat merasa tenang sekarang. Doakan semoga saya dapat melakukan tugas ini dengan baik, dan yakinlah bahwa Allah akan menjaga anak Anda."

Keramahan sang dokter ternyata tidak meredamkan amarah si bapak, bahkan suaranya mengguntur. "Anda bilang apa? Tenang? Sedikit pun Anda tidak peduli rupannya. Apakah Anda bisa tenang jika anak Anda yang sekarat! Apa yang akan Anda lakukan jika anak Anda meninggal!"

Dimanakah Cinta Seorang Ayah?

23 Agustus 2012

[MIB] "S" adalah seorang lelaki yang hidup dalam keluarga broken home. Ayahnya hanya sibuk mencari harta dan kekayaan dengan segala cara yang ada. Sedang sang ibu lebih mementingkan untuk keluar, pergi dan jalan-jalan. Karena itu, harmonisme di antara suami dan istri ini hampir mustahil dan bisa menyebabkan perceraian. Kekerasan hati sang ibu sudah sampai pada puncaknya ketika ia kabur dari rumah tanpa memberi pandangan kasih sayang kepada putranya yang masih kecil. Bahkan, dia keluar seolah narapidana yang membobol pintu penjara lalu melarikan diri dengan meninggalkan sesuatu yang termulia pada hati seorang ibu. Akan tetapi, apakah seperti ini orang yang disebut ibu?

Kehidupan S bersama ayahnya penuh hedonisme dan kemanjaan, tapi tanpa dibarengi perhatian dan pendidikan yang selayaknya. Pendidikan di mata sang ayah hanya sebatas pada apa dan berapa yang anaknya inginkan saja. Pendidikan di matanya hanya ambil dan ambillah tanpa hitungan dan kontrol. Anak itu pun tumbuh dewasa atas dasar pendidikan yang salah ini.

Akan tetapi, sang ayah menampakkan penampilan seorang jet set yang tidak pelit kepada putranya untuk memasukkan putranya ke sekolah asing. S menjalani semua studi pendidikannya di sekolah ini. Namun, apa yang dia dapat dari sekolah ini?

Dia hanya tahu menenggak minuman keras, narkoba, dan berbagai hubungan gelap bersama para gadis amoral dan menyelam di dalam jurang kerusakan pada kedua telinganya. Lalu di mana sang ayah? Sang ayah hanya sibuk dengan bisnis, profesi, dan urusan-urusan lainnya. Dengan memfasilitasi harta, pelayan, villa yang megah kepada putranya dan memasukkannya ke sekolah asing terfavorit (the best foreign school). Ayahnya mengira bahwa ia telah melaksanakan tanggungjawabnya terhadap putranya. Dimanakah cinta seorang ayah? Dan dimana arahan, nasihat, dan bimbingan itu?

Guru dan Dua Permainannya

Seorang guru sedang bersemangat mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya. Ia duduk menghadap murid-muridnya. Di tangan kirinya ada kapur dan di tangan kanannya ada penghapus. Guru itu berkata, "Saya memiliki sebuah permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur dan di tangan kanan saya ada penghapus. Jika saya angkat kapur ini, katakan 'Kapur!' dan jika saya angkat penghapus ini, katakan 'Penghapus!'" Murid-muridnya pun mengerti dan mengikutinya. Guru mengangkat tangan kanan dan tangan kirinya secara bergantian. Semakin lama semakin cepat.


Beberapa saat kemudian guru kembali berkata, "Baik, sekarang perhatikan! Jika saya angkat kapur, katakan 'Penghapus!', dan jika saya angkat penghapus, katakan 'Kapur!' Kemudian ulangi seperti tadi." Tentu saja murid-murid tadi keliru dan bingung serta sangat sulit untuk mengubahnya.

Namun lambat laun, mereka sudah terbiasa dan tidak lagi bingung. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Guru tersenyum kepada murid-muridnya.

"Anak-anak, begitulah kita ummat Islam. Mulanya yang haq itu haq, dan yang bathil itu bathil. Kita begitu jelas membedakannya. Namun kemudian, musuh-musuh kita memaksa kita dengan berbagai cara untuk menukarkan sesuatu dari yang haq menjadi bathil dan sebaliknya. Pertama-tama mungkin akan sulit bagi kita menerima hal itu, tapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian akan terbiasa dengan hal tersebut. Dan perlahan-lahan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak akan pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika yang sudah ditetapkan syariat. Keluar berdua-duaan, berkasih-kasihan bukan lagi menjadi sesuatu yang tabu, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, seks sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan tren, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup dan lain-lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disadari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?" tanya guru kepada murid-muridnya.

Blog Buletin al-Hikmah | oleh OSIS SMA Wahdah. Diberdayakan oleh Blogger.

al-Hikmah

Mulia dengan Ilmu

Archives

Followers