#1: Kisah Tiga Karung Beras

29 November 2012

Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggallah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang.

Ibunya bersusah payah seorang diri membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas. Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit reumatik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja di sawah.

Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa 30 kg beras untuk dibawa ke kantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan 30 kg beras tersebut. Dan kemudian ia berkata kepada ibunya: "Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja di sawah." Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata: "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftar ke sekolah, nanti berasnya mama yang akan bawa ke sana."

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan diri ke sekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya.

Jihad Nabi di Bumi Palestina

18 November 2012

Oleh asy-Syaikh Dr. Abu Anas Muhammad Bin Musa Alu Nashr -hafizhahullah-

Palestina adalah bumi penuh berkah yang Allah jadikan sebagai tempat turunnya risalah, tempat berhimpunnya kebudayaan dan sebagai tempat hijrah para nabi-Nya. Di dalamnya terdapat kiblat pertama dan tempat di-isra’-kannya Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam, di dalamnya pula Dajjal akan binasa melalui tangan al-Masih ‘alayhis salam dan dibinasakannya Ya’juj dan Ma’juj. Serta di dalamnya pula, bebatuan dan pepohonan akan berkata, “Wahai muslim! Wahai hamba Allah! Ini ada Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia!”, maka Yahudi pun akan binasa melalui tangan hamba-hamba Allah yang shalih di bumi Palestina.

Rasulullah pernah mengimami seluruh Nabi di Masjid al-Aqsha, agar imamah (kepemimpinan) dan siyadah (kekuasaan) di atas Masjidil Aqsha tetap langgeng, agar seluruh makhluk tunduk terhadap Islam. Selama perputaran sejarah, kerajaan-kerajaan dan negeri-negeri saling bermusuhan untuk memperebutkannya, mereka saling membinasakan dan mengalahkan dalam rangka menguasainya dan mendudukinya. Dikarenakan Palestina adalah bumi Allah terpilih (the choosen land) yang Allah memilihnya sebagai tempat hijrah bagi khalil (kesayangan)-Nya Ibrahim dan kalim-Nya (kalim: orang yang diajak bercakap) Musa, sebagai tempat kelahiran Isa dan tempat isra’-nya Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam.

Di saat kemunculan Islam, Palestina saat itu di bawah kekuasaan imperium Romawi yang salibis paganis. Maka merupakan keharusan mensucikan Palestina dari najis-najis mereka. Nabi telah menulis surat kepada Raja Romawi dan mengutus kepadanya beberapa utusan. Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah mengerahkan pasukan dalam jumlah besar, dan Palestina ketika itu termasuk salah satu begian negeri Syam. Belum pernah terjadi saat itu adanya pembatasan-pembatasan wilayah/area yang dipisahkan oleh perjanjian ‘Saikus baiku’ yang memilukan (seperti saat ini).

Hati yang Diam Kala Terluka

13 November 2012

Oleh Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi

Seorang dokter ahli bedah bergegas menuju rumah sakit begitu dihubungi pihak rumah sakit karena seorang pasien dalam kondisi kritis harus segera dioperasi. Begitu sampai dia mempersiapkan diri, mandi dan bersalin pakaian.


Sejenak sebelum masuk ke ruangan operasi ia bertemu dengan ayah pasien yang raut wajahnya memendam cemas bercampur marah. Dengan ketus laki-laki itu mencecar sang dokter, "Kenapa lama sekali, Dokter! Tidak taukah Anda anak saya sedang kritis! Mana tanggung jawab Anda sebagai dokter!"

Dokter bedah itu menjawab dalam senyum, "Saudaraku, saya sangat menyesal atas keterlambatan ini. Tadi saya sedang berada di luar, tetapi begitu dihubungi saya langsung menuju ke sini. Semoga Anda maklum dan dapat merasa tenang sekarang. Doakan semoga saya dapat melakukan tugas ini dengan baik, dan yakinlah bahwa Allah akan menjaga anak Anda."

Keramahan sang dokter ternyata tidak meredamkan amarah si bapak, bahkan suaranya mengguntur. "Anda bilang apa? Tenang? Sedikit pun Anda tidak peduli rupannya. Apakah Anda bisa tenang jika anak Anda yang sekarat! Apa yang akan Anda lakukan jika anak Anda meninggal!"

Blog Buletin al-Hikmah | oleh OSIS SMA Wahdah. Diberdayakan oleh Blogger.

al-Hikmah

Mulia dengan Ilmu

Archives

Followers